Vaksin Polio dan Jenis Vaksin Polio pada Anak

Setiap anak Indonesia mempunyai hak untuk sehat dan kebal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, karena tidak (belum) disubsidi pemerintah, maka orangtua masih harus membayar untuk mendapatkan sebagian dari vaksin tersebut. Berikut ini 14 vaksin Rekomendasi IDAI 2014, berdasarkan Permenkes RI No. 42 Tahun 2013

Vaksin Polio

Memberikan kekebalan terhadap penyakit polio yang menyebabkan kelumpuhan (lumpuh layu) pada anggota badan bawah anak. Ada 2 macam vaksin polio, yakni:

1. Vaksin Polio Oral (Oral Polio Vaccine = OPV)

Berisi virus polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan. Diberikan dua tetes ke mulut bayi. Bila pada saat imunisasi, bayi/anak muntah dalam waktu 10 menit, maka pemberiannya harus diulang dengan dosis yang sama. Jika muntah berulang, berikan lagi pada keesokan harinya. Vaksin polio hidup (oral) tidak boleh diberikan bila bayi/anak demam tinggi di atas 38,5°C, diare, atau muntah-muntah, dalam pengobatan kortikosteroid, menderita kanker, HIV atau penyakit hipogamaglobulin.

2. Vaksin Polio Inaktivasi (Inactived Poliomyelitis Vaccine = IPV)

Berisi virus polio tidak aktif, diberikan 0,5 ml dengan cara suntikan di otot paha atau lengan. IPV dapat diberikan dalam bentuk kombinasi (DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV). Berbeda dengan OPV, vaksin polio inaktivasi/suntik boleh diberikan pada anak dengan kekebalan tubuh rendah, misalnya sedang mendapat pengobatan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka lama, mendapat obat-obat anti-kanker, menderita HIV/AIDS, atau di dalam rumahnya ada penderita-penderita tersebut.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Pemberian pertama harus dalam bentuk vaksin polio oral (OPV-0) pada bayi baru lahir atau saat bayi akan dipulangkan sebagai dosis awal. ASI dapat diberikan segera setelah imunisasi polio oral pada umur lebih dari 1 minggu. Hanya di dalam kolostrum terdapat antibodi dengan titer tinggi yang dapat mengikat vaksin polio oral.

• Selanjutnya diteruskan dengan imunisasi dasar polio 1, 2, 3 mulai umur 2—6 bulan dengan interval waktu 4—8 minggu dan imunisasi ulangan (booster) sebelum anak masuk sekolah bersamaan dengan jadwal imunisasi ulangan DPT.

• Imunisasi polio 1, 2, 3 dan booster dapat diberikan dalam bentuk OVP atau IPV. Rekomendasi IDAI 2014: paling sedikit 1 kali dosis IPV diberikan pada anak yang penting dalam masa transisi menuju pemusnahan total atau Eradikasi Polio (ERAPO).

• Dalam rangka ERAPO, masih diperlukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) sesuai anjuran Departemen Kesehatan. Pada PIN, semua balita harus mendapat imunisasi OPV tanpa memandang status imunisasinya untuk memperkuat kekebalan mukosa saluran cerna dan memutuskan transmisi virus polio liar.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Sebagian kecil anak setelah imunisasi dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, nyeri otot. Setelah mendapat imunisasi polio oral (OPV), pada tinja bayi akan terdapat virus polio selama 6 minggu sejak pemberian imunisasi. Untuk itu, cucilah tangan setelah mengganti popok bayi. OPV dan IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimiksin, dan streptomisin). Namun, hal ini tidak merupakan kontraindikasi kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif berlebihan.