Vaksin Hepatitis B untuk Anak



Vaksin Hepatitis B

Hepatitis B menjadi ancaman bagi bayi-bayi Indonesia mengingat Indonesia termasuk negara endemis sedang-tinggi. Bayi yang terinfeksi virus hepatitis B berisiko lebih tinggi mengalami penyakit hati kronis dibandingkan orang dewasa yang terkena hepatitis B pada masa dewasa. Namun, penularan virus tersebut dapat dicegah dengan vaksinasi segera.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Diberikan 3 dosis. Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah 0, 1, 6 bulan karena respons antibodi paling optimal.

• Pemberian vaksin hepatitis B1 paling baik dalam 12 jam setelah bayi lahir, didahului pemberian suntikan vitamin K1 untuk mencegah terjadi perdarahan akibat defsiensi vitamin K.

• Vaksinasi hepatitis B berikutnya dapat diberikan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi. Jika diberikan hanya 2 kali atau 1 kali saja, maka imunisasi ini tidak maksimal dan dikhawatirkan virus hepatitis B masih bisa menyerang bayi. Sebagian bayi mungkin diberi 4 dosis jika menggunakan vaksin kombinasi (satu kali suntikan mengandung beberapa vaksin) yang mengandung hepatitis B.

• Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif harus diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) bersamaan dengan vaksin hepatitis B di sisi tubuh yang berbeda (paha kiri dan kanan) kurang dari 12 jam setelah lahir. Untuk mencegah infeksi perinatal yang berisiko tinggi menjadi Hepatitis B kronik.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Hal ini termasuk jarang terjadi. Kalaupun terjadi biasanya dapat timbul demam yang tidak tinggi. Ada pula yang merasakan nyeri sendi atau mual. Kemerahan serta pembengkakan dapat terjadi pada tempat penyuntikan. Atasi gejala tersebut dengan memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah). Bila demam, kenakan pakaian tipis pada bayi. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air hangat. Jika reaksi tersebut menjadi berat dan menetap atau jika Mama Papa merasa khawatir, bawalah bayi ke dokter.