Vaksin Campak untuk Anak Anak



Vaksin Campak

Memberikan kekebalan terhadap komplikasi berat penyakit campak (measles atau morbili) seperti pneumonia dan ensefalitis. WHO menganjurkan imunisasi campak diberikan pada bayi berumur 9 bulan di negara berkembang karena angka kejadian campak yang masih tinggi.

Jadwal Pemberian:

• Pada program nasional diberikan 2 kali di usia 9 bulan dan ulangan (booster) di usia 24 bulan (Permenkes RI No. 42/2013).

• Imunisasi lanjutan diberikan saat anak masuk SD, usia 6 tahun (Program BIAS).

• Bila mendapat imunisasi MMR di usia 15 bulan, maka imunisasi campak umur 24 bulan tidak diperlukan.

Aturan Pemberian:

• Imunisasi campak dengan dosis 0,5 ml diberikan secara subkutan (bawah kulit), meski demikian dapat diberikan secara intramuskular (ke dalam otot).

• Bayi yang pernah menderita campak tetap boleh diberikan vaksin campak. Semua anak balita dan usia sekolah di daerah yang banyak kasus campak dan cakupan imunisasinya masih rendah harus mendapat imunisasi campak ulangan agar kekebalan berlangsung lama.

• Imunisasi campak tidak dianjurkan pada anak dengan imunodefi siensi primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, anak yang mendapat obat imunosupresi (obat penekan sistem imun) jangka panjang.

• Anak yang terinfeksi HIV tanpa imunosupresi berat dan tanpa bukti kekebalan terhadap campak, bisa mendapat imunisasi campak.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Telah menurun sejak digunakannya vaksin campak hidup yang dilemahkan. Gejalanya berupa demam hingga 39,5°C pada hari ke-5—6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Ruam (bercak-bercak merah) dapat dijumpai pada 5% anak, timbul pada hari ke-7—10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2—4 hari. Reaksi berat seperti ensefalitis (radang otak) sangat jarang terjadi.