Produsen Kendaraan Bersiap Hadapi Perang Tarif

JAKARTA — Sejumlah negara produsen kendaraan bermotor menyiapkan respons keras atas tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan kenaikan bea masuk kendaraan bermotor dan komponennya. Kabar yang dilansir CNBC kemarin, menyebutkan perwakilan pemerintah Kanada, Jepang, Meksiko, Korea Selatan, dan Uni Eropa akan menggelar konsolidasi menyikapi sikap Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, pekan ini. Negara-negara tersebut sebelumnya sudah berdialog satu sama lain, setelah Trump menyerukan penyelidikan atas pelanggaran Pasal 232 beleid perdagangan, pada 23 Mei lalu. Pasal 232 adalah kondisi yang memungkinkan pemerintah Amerika Serikat menyelidiki pemasok di negara-negara tertentu, lantaran volume ekspornya kelewat tinggi dan dianggap membahayakan kepentingan negara.

Dengan kata lain, Trump menganggap negara pemasok kendaraan sebagai ancaman bagi kedaulatan negaranya dan layak ditindak. Setelah perintah penyelidikan terbit, Otoritas Perdagangan Amerika memiliki waktu selama 270 hari untuk menyerahkan rekomendasi kepada Presiden, apakah sejumlah parameter menunjukkan adanya ancaman atas kepentingan negara di sektor perdagangan. Jika ancaman itu terbukti, Amerika Serikat akan mengenakan sanksi berupa kenaikan bea masuk hingga 25 persen ke negara pemasok. Dampaknya akan memukul sejumlah produsen, seperti Hyundai Motor, Toyota, BMW, dan Fiat Chrysler. Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai tindakan balasan dari negara-negara pemasok kendaraan. Salah satu sumber menyebutkan ada opsi untuk menyeret Amerika Serikat ke panel Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Namun ada juga yang menyebutkan beberapa negara, seperti Kanada dan Meksiko, akan mengenakan tarif bea masuk balasan yang lebih tinggi pada produkproduk asal Amerika Serikat. “Pertemuan di Jenewa lebih untuk menyatukan sikap negara-negara produsen kendaraan, sehingga bisa dirumuskan tindakan untuk menyikapi rencana penyelidikan oleh Amerika Serikat,” kata salah seorang pejabat pemerintah Kanada. Sikap yang lebih keras ditunjukkan oleh Deputi Duta Besar Kanada untuk Amerika Serikat, Kirsten Hillman. Dia menolak tuduhan “Pasal 232” yang dialamatkan kepada negaranya berikut semua pembenaran Amerika Serikat untuk mengenakan tarif tambahan. “Jika hasil investigasi ini berujung pada kenaikan tarif, Kanada akan merespons dengan tindakan balasan yang sama kerasnya,” kata dia, seperti dikutip CBC. Selain menggelar pertemuan multilateral, negara-negara tersebut akan menemui pejabat WTO. Situs WTO menyebutkan Roberto Azevedo—selaku pemimpin organisasi— akan berdialog dengan Deputi Menteri Ekonomi Meksiko Juan Carlos Baker, Deputi Menteri Perdagangan Kanada Timothy Sargent, dan Deputi Senior Kementerian Luar Negeri Jepang Kazuyuki Yamazaki pada Senin-Selasa pekan depan. April lalu, Komisi Uni Eropa menyatakan akan menerbitkan aturan pungutan pajak pada perusahaan digital dan teknologi asal Amerika Serikat, seperti Google dan Facebook. Dalam draf aturan itu disebutkan bahwa Uni Eropa akan memungut pajak 3 persen dari omzet perusahaan digital. Pungutan pajak ini dirancang sebagai jawaban Eropa atas tantangan perang dagang yang dilancarkan Amerika Serikat melalui pungutan impor baja dan aluminium. Kini, otoritas persaingan usaha Eropa juga menyelidiki praktik bisnis Amazon, Google, dan Apple, yang mengarah ke tuduhan monopoli