Pertamina Percepat Proyek Infrastruktur Distribusi Bahan Bakar

MAUMERE – PT Pertamina (Persero) mempercepat proyek infrastruktur pendukung distribusi bahan bakar. Saat ini, perseroan memiliki 29 proyek strategis yang dibangun dengan anggaran Rp 20 triliun. Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina, Gandhi Sriwibowo, mengatakan perusahaannya mengembangkan beberapa jenis proyek strategis, seperti pembangunan terminal bahan bakar minyak, terminal elpiji, (liquefied petroleum gas/LPG), depot pengisian pesawat udara (DPPU), serta pengembangan sarana tambat atau pelabuhan untuk kapal Pertamina. “Pendanaan proyeknya melibatkan anak perusahaan dan perusahaan negara lain dengan model kerja sama operasi (KSO),” kata dia saat meresmikan pengembangan Terminal BBM (TBBM) Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kemarin. Pola KSO, menurut Gandhi, tak akan membebani kas perseroan. Pelibatan perusahaan pelat merah lain, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, untuk membangun konstruksi bisa mendukung realisasi target perampungan seluruh proyek pada 2025.

“Nanti pembiayaan dari investor dikembalikan dengan fee penggunaan fasilitas proyek itu. Jadi pada periode tertentu (proyek) jadi milik Pertamina.” Pertamina pun menggenjot pengembangan TBBM dan perpipaan untuk pola suplai yang lebih efisien di wilayah timur Indonesia. Empat dari 10 proyek strategis TBBM yang bernilai total Rp 4,9 triliun berlokasi di kawasan timur, seperti Maumere, Bau Bau (Sulawesi Tenggara), dan Biak (Papua). TBBM Maumere di Sikka ditargetkan menjadi pusat distribusi BBM kedua di NTT, setelah Kupang. Wilayah itu biasa mendapat suplai 9.000 kiloliter BBM per bulan, tapi distribusinya kerap terlambat karena cuaca buruk yang mengganggu arus kapal distribusi. “Kalau jadi penyalur, ketahanan stok yang awalnya 4-5 hari di Maumere bisa menjadi delapan hari. Biaya pengiriman BBM (di NTT) oleh Pertamina pun menjadi lebih efisien 20 persen,” kata Gandhi. Area tangki TBBM Maumere tengah diperluas dengan anggaran Rp 449 miliar. Dari pengamatan Tempo, TBBM yang berdiri di atas lahan sekitar 2 hektare itu sudah memiliki 10 tangki timbun berkapasitas 20 ribu kiloliter BBM. Jika sudah dikembangkan hingga berkapasitas total 90 ribu kiloliter, dermaga yang hanya berjarak 1 kilometer dari TBBM Maumere bisa disinggahi tanker berkapasitas 50 ribu tonase bobot mati (DWT). “Sebelumnya hanya kapal 6.500 DWT karena hanya menyuplai Sikka. Nanti lebih luas,” ucap Gandhi. Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito, mengatakan 29 proyek strategis hanyalah bagian dari penguatan infrastruktur hilir Pertamina yang pembiayaan totalnya mencapai lebih dari Rp 36 triliun. “Proyek strategis juga mendukung program pemerintah, seperti BBM Satu Harga dan konversi minyak tanah ke elpiji,” ujar Adiatma dalam keterangan tertulis. Manager Supply and Distribution Marketing Operation Region V Pertamina, Arman Siswandi, memastikan pengembangan TBBM sesuai dengan peningkatan kebutuhan bahan bakar. Pertamina juga merencanakan penambahan tangki timbun di 14 lokasi lain di wilayah timur Indonesia. Adapun penjabat Bupati Sikka, Florianus Mekeng, menjanjikan peningkatan keamanan dalam setiap proyek investasi yang masuk ke wilayahnya. “Harus ada kenyamanan berinvestasi. Pemda juga terus mengkaji pemenuhan sarana dan prasarana penunjang, seperti kelistrikan,” katanya.