Pengertian Vaksin MMR dan Vaksin HiB untuk Anak



Vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella)

Memberikan kekebalan terhadap tiga penyakit berikut mumps (gondongan, parotitis), measles (campak, morbili, rubeola), dan rubella. Dari ketiga penyakit ini, rubella adalah penyakit yang ditakuti karena dapat menimbulkan komplikasi pada awal kehamilan. Pencegahan terjadinya sindrom rubella kongenital merupakan tujuan pemberian imunisasi rubella sehingga sangat dianjurkan pemberiannya terutama pada anak perempuan. Sebaliknya untuk anak laki-laki, penyakit mumps dapat mempunyai komplikasi infeksi orkitis/peradangan testis walau dampak menjadi steril (mandul) jarang ditemukan.

Jadwal Pemberian:

Dapat diberikan pada usia 12 bulan bila pada usia 9 bulan belum mendapat imunisasi campak. Selanjutnya dilakukan imunisasi MMR ulangan pada usia 5—7 tahun.

Aturan Pemberian:

• Diberikan dengan dosis 0,5 ml lewat suntikan intramuskular atau subkutan dalam.

• Vaksin MMR mengandung virus hidup sehingga pemberiannya harus ditunda lebih kurang satu bulan setelah imunisasi terakhir bila si bayi telah mendapatkan vaksin hidup lain.

• Tetap boleh diberikan walau anak ada riwayat terkena penyakit campak, gondongan dan rubela, ataupun sudah pernah di imunisasi campak. Tidak ada efek imunisasi yang terjadi pada anak yang sebelumnya telah mendapat imunisasi terhadap salah satu atau lebih dari ketiga penyakit ini.

• Kontraindikasi pemberian vaksin MMR sama dengan kontraindikasi pemberian vaksin hidup lainnya.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Dapat terjadi demam, ruam, dan lesu yang muncul 1 minggu setelah imunisasi dan berlangsung selama 2—3 hari. Untuk mengurangi demam dapat diberikan parasetamol pada masa 5—12 hari setelah imunisasi. Kejang demam timbul pada 0,1% anak. Meningoensefalitis (radang otak) terjadi kurang dari 1 per 1 juta anak.

Vaksin HiB (Haemophilus influenzae type B)

Memberikan kekebalan terhadap infeksi bakteri Haemophilus infl uenzae tipe B (HiB) sebagai penyebab berbagai penyakit serius dan kematian terutama pada bayi kecil, seperti: radang selaput otak (meningitis), radang paru-paru (pneumonia), dan sulit bernapas akibat epiglotitis (infeksi dan pembengkakan katup tulang rawan di dalam tenggorokan yang menutup saat kita menelan, agar makanan tidak masuk dalam tenggorokan). Jadwal & Aturan Pemberian: Diberikan sebanyak 3 dosis sejak usia 2 bulan, berikutnya usia 4 dan 6 bulan. Imunisasi ulangan (booster) pada usia 15—18 bulan. Pemberian dapat dikombinasikan dengan vaksinasi lain.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Kadang dapat dijumpai demam ringan, nyeri, dan bengkak pada bekas suntikan yang berlangsung sekitar 1—2 hari. Penanganan sama seperti pada vaksinasi lainnya. Vaksin PCV (Pneumococcal Vaccine) Memberikan kekebalan terhadap penyakit Invasive Peumococcal Diseases (IPD), yakni meningitis (radang selaput otak), bakteremia (infeksi darah), pneumonia (radang paru), dan infeksi invasif di tempat lain yang disebabkan oleh kuman pneumokokus yang terutama menyerang anak di bawah 2 tahun dan lansia.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Diberikan pada bayi usia 2, 4, 6 bulan dan imunisasi booster pada usia 15—16 bulan. Interval antara dua dosis 4—8 minggu.

• Bila anak datang setelah usia =7 bulan maka jadwal dan dosis pemberiannya dapat dilihat pada tabel di bawah.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Pada dasarnya aman diberikan, kadang dapat terjadi demam ringan, kurang dari 38°C, rewel, nafsu makan berkurang, muntah, diare, dan gatalgatal di kulit. Reaksi ini bisa hilang dengan sendirinya. Jika demam, beri obat penurun panas.

Vaksin Campak untuk Anak Anak



Vaksin Campak

Memberikan kekebalan terhadap komplikasi berat penyakit campak (measles atau morbili) seperti pneumonia dan ensefalitis. WHO menganjurkan imunisasi campak diberikan pada bayi berumur 9 bulan di negara berkembang karena angka kejadian campak yang masih tinggi.

Jadwal Pemberian:

• Pada program nasional diberikan 2 kali di usia 9 bulan dan ulangan (booster) di usia 24 bulan (Permenkes RI No. 42/2013).

• Imunisasi lanjutan diberikan saat anak masuk SD, usia 6 tahun (Program BIAS).

• Bila mendapat imunisasi MMR di usia 15 bulan, maka imunisasi campak umur 24 bulan tidak diperlukan.

Aturan Pemberian:

• Imunisasi campak dengan dosis 0,5 ml diberikan secara subkutan (bawah kulit), meski demikian dapat diberikan secara intramuskular (ke dalam otot).

• Bayi yang pernah menderita campak tetap boleh diberikan vaksin campak. Semua anak balita dan usia sekolah di daerah yang banyak kasus campak dan cakupan imunisasinya masih rendah harus mendapat imunisasi campak ulangan agar kekebalan berlangsung lama.

• Imunisasi campak tidak dianjurkan pada anak dengan imunodefi siensi primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, anak yang mendapat obat imunosupresi (obat penekan sistem imun) jangka panjang.

• Anak yang terinfeksi HIV tanpa imunosupresi berat dan tanpa bukti kekebalan terhadap campak, bisa mendapat imunisasi campak.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Telah menurun sejak digunakannya vaksin campak hidup yang dilemahkan. Gejalanya berupa demam hingga 39,5°C pada hari ke-5—6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Ruam (bercak-bercak merah) dapat dijumpai pada 5% anak, timbul pada hari ke-7—10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2—4 hari. Reaksi berat seperti ensefalitis (radang otak) sangat jarang terjadi.

Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) untuk Anak



Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)

Untuk mendapatkan kekebalan terhadap ketiga penyakit, yaitu: difteri, pertusis, dan tetanus. Terdapat 2 jenis vaksin DPT:

1. Dengan kandungan seluruh sel kuman pertusis (whole cell pertussis), disingkat DTwP. Vaksin inilah yang tersedia di posyandu dan puskesmas.

2. Vaksin yang tidak mengandung kuman pertusis, tapi berisi komponen spesifk toksin dari kuman pertusis, disebut sebagai aseluler pertusis, disingkat DTaP. Keuntungan vaksin ini, memberikan reaksi lokal dan demam yang lebih ringan dibanding vaksin whole cell.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali. Dosis pertama pada usia lebih dari 6 minggu dengan interval 1—2 bulan untuk pemberian selanjutnya. Tidak diberikan pada bayi kurang dari usia 6 minggu karena respons terhadap pertusis tidak optimal. Vaksin dengan dosis 0,5 ml disuntikkan di otot paha. Dapat diberikan vaksin DTaP atau DTwP atau kombinasi dengan vaksin lain.

• DTaP atau DTwP, imunisasi DPT ulangan (booster) diberikan 1 kali pada usia 18 bulan dan diulang lagi ketika usia 5 tahun.

• Untuk anak umur lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td dan di-booster setiap 10 tahun.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Umumnya dapat terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam bisa diberikan parasetamol. Pembengkakan di tempat penyuntikan bisa dikurangi dengan kompres air hangat. Jika terjadi reaksi anafi laksis berat atau ensefalopati dengan gejala hiperpireksia, hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis terus-menerus selama 3 jam lebih dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudah pemberian DPT, maka dapat diberikan vaksin DT (vaksin pertusis tidak digunakan lagi).



Vaksin BCG untuk Anak



Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Merupakan vaksin hidup yang sudah dilemahkan dari Mycobacterium bovis. Vaksinasi BCG tidak mencegah seseorang terinfeksi penyakit tuberkulosis, tetapi mencegah perkembangan penyakit tersebut dan mengurangi risiko terjadinya penyakit tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis miilier.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Satu kali saja pada usia kurang dari 3 bulan dan optimalnya di usia 2 bulan. Bila diberi setelah usia lebih dari 3 bulan, maka perlu dilakukan tes tuberkulin terlebih dahulu untuk mendeteksi apakah anak sudah terinfeksi kuman TB atau belum.

• Pada bayi dengan ibu posiitif menderita TB atau bayi yang berkontak erat dengan pasien TB, sebaiknya vaksinasi BCG ditunda dan diberikan INH proflaksis terlebih dahulu.

• Penyuntikan vaksin BCG dilakukan secara intradermal 0,1 ml untuk anak dan 0,05 ml untuk bayi baru lahir di lengan kanan atas atau paha.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Dapat menimbulkan bisul kecil dan bernanah di wilayah bekas suntikan yang akan sembuh dalam jangka waktu 2—3 bulan. Munculnya bisul menandakan imunisasi berhasil. Bisul perlahan akan sembuh dan menimbulkan jaringan parut dengan diameter 4—8 mm. Jika bisul tidak muncul, mungkin saja disebabkan oleh cara penyuntikan yang kurang benar. Meski demikian, antibodi dalam tubuh tetap terbentuk, hanya dalam kadar yang rendah. Namun, imunisasi BCG tidak perlu diulang lagi, karena di wilayah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu terjadi.

Vaksin Hepatitis B untuk Anak



Vaksin Hepatitis B

Hepatitis B menjadi ancaman bagi bayi-bayi Indonesia mengingat Indonesia termasuk negara endemis sedang-tinggi. Bayi yang terinfeksi virus hepatitis B berisiko lebih tinggi mengalami penyakit hati kronis dibandingkan orang dewasa yang terkena hepatitis B pada masa dewasa. Namun, penularan virus tersebut dapat dicegah dengan vaksinasi segera.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Diberikan 3 dosis. Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah 0, 1, 6 bulan karena respons antibodi paling optimal.

• Pemberian vaksin hepatitis B1 paling baik dalam 12 jam setelah bayi lahir, didahului pemberian suntikan vitamin K1 untuk mencegah terjadi perdarahan akibat defsiensi vitamin K.

• Vaksinasi hepatitis B berikutnya dapat diberikan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi. Jika diberikan hanya 2 kali atau 1 kali saja, maka imunisasi ini tidak maksimal dan dikhawatirkan virus hepatitis B masih bisa menyerang bayi. Sebagian bayi mungkin diberi 4 dosis jika menggunakan vaksin kombinasi (satu kali suntikan mengandung beberapa vaksin) yang mengandung hepatitis B.

• Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif harus diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) bersamaan dengan vaksin hepatitis B di sisi tubuh yang berbeda (paha kiri dan kanan) kurang dari 12 jam setelah lahir. Untuk mencegah infeksi perinatal yang berisiko tinggi menjadi Hepatitis B kronik.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Hal ini termasuk jarang terjadi. Kalaupun terjadi biasanya dapat timbul demam yang tidak tinggi. Ada pula yang merasakan nyeri sendi atau mual. Kemerahan serta pembengkakan dapat terjadi pada tempat penyuntikan. Atasi gejala tersebut dengan memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah). Bila demam, kenakan pakaian tipis pada bayi. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air hangat. Jika reaksi tersebut menjadi berat dan menetap atau jika Mama Papa merasa khawatir, bawalah bayi ke dokter.

Vaksin Polio dan Jenis Vaksin Polio pada Anak

Setiap anak Indonesia mempunyai hak untuk sehat dan kebal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, karena tidak (belum) disubsidi pemerintah, maka orangtua masih harus membayar untuk mendapatkan sebagian dari vaksin tersebut. Berikut ini 14 vaksin Rekomendasi IDAI 2014, berdasarkan Permenkes RI No. 42 Tahun 2013

Vaksin Polio

Memberikan kekebalan terhadap penyakit polio yang menyebabkan kelumpuhan (lumpuh layu) pada anggota badan bawah anak. Ada 2 macam vaksin polio, yakni:

1. Vaksin Polio Oral (Oral Polio Vaccine = OPV)

Berisi virus polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan. Diberikan dua tetes ke mulut bayi. Bila pada saat imunisasi, bayi/anak muntah dalam waktu 10 menit, maka pemberiannya harus diulang dengan dosis yang sama. Jika muntah berulang, berikan lagi pada keesokan harinya. Vaksin polio hidup (oral) tidak boleh diberikan bila bayi/anak demam tinggi di atas 38,5°C, diare, atau muntah-muntah, dalam pengobatan kortikosteroid, menderita kanker, HIV atau penyakit hipogamaglobulin.

2. Vaksin Polio Inaktivasi (Inactived Poliomyelitis Vaccine = IPV)

Berisi virus polio tidak aktif, diberikan 0,5 ml dengan cara suntikan di otot paha atau lengan. IPV dapat diberikan dalam bentuk kombinasi (DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV). Berbeda dengan OPV, vaksin polio inaktivasi/suntik boleh diberikan pada anak dengan kekebalan tubuh rendah, misalnya sedang mendapat pengobatan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka lama, mendapat obat-obat anti-kanker, menderita HIV/AIDS, atau di dalam rumahnya ada penderita-penderita tersebut.

Jadwal & Aturan Pemberian:

• Pemberian pertama harus dalam bentuk vaksin polio oral (OPV-0) pada bayi baru lahir atau saat bayi akan dipulangkan sebagai dosis awal. ASI dapat diberikan segera setelah imunisasi polio oral pada umur lebih dari 1 minggu. Hanya di dalam kolostrum terdapat antibodi dengan titer tinggi yang dapat mengikat vaksin polio oral.

• Selanjutnya diteruskan dengan imunisasi dasar polio 1, 2, 3 mulai umur 2—6 bulan dengan interval waktu 4—8 minggu dan imunisasi ulangan (booster) sebelum anak masuk sekolah bersamaan dengan jadwal imunisasi ulangan DPT.

• Imunisasi polio 1, 2, 3 dan booster dapat diberikan dalam bentuk OVP atau IPV. Rekomendasi IDAI 2014: paling sedikit 1 kali dosis IPV diberikan pada anak yang penting dalam masa transisi menuju pemusnahan total atau Eradikasi Polio (ERAPO).

• Dalam rangka ERAPO, masih diperlukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) sesuai anjuran Departemen Kesehatan. Pada PIN, semua balita harus mendapat imunisasi OPV tanpa memandang status imunisasinya untuk memperkuat kekebalan mukosa saluran cerna dan memutuskan transmisi virus polio liar.

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi:

Sebagian kecil anak setelah imunisasi dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, nyeri otot. Setelah mendapat imunisasi polio oral (OPV), pada tinja bayi akan terdapat virus polio selama 6 minggu sejak pemberian imunisasi. Untuk itu, cucilah tangan setelah mengganti popok bayi. OPV dan IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimiksin, dan streptomisin). Namun, hal ini tidak merupakan kontraindikasi kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif berlebihan.