Bulu Tangkis Indonesia

Perjuangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu berakhir di babak semifinal kejuaraan dunia 2018 di Nanjing, Cina. Setelah sukses mengempaskan pasangan unggulan pertama dari Cina, langkah Greysia/Apriyani dihentikan pasangan Jepang. Pasangan unggulan kelima ini dikalahkan oleh Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang) pada Sabtu lalu. Hasil ini meleset dari target satu gelar juara yang telah ditetapkan oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. Pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, yang merupakan salah satu andalan untuk meraih gelar juara, hanya mampu mencapai babak perempat final. “Hasil ini memang tidak sesuai dengan target kami, yaitu satu gelar juara.

Saya sebagai Kabid Binpres dan manajer tim minta maaf kepada masyarakat Indonesia karena belum bisa memberikan hasil terbaik,” ujar Susi Susanti kepada Badmintonindonesia.org. Susi mengatakan memang sedih dan kecewa atas hasil ini, tapi pengurus, pelatih, dan pemain harus segera bangkit dan bekerja keras lagi untuk menghadapi pertandingan berikutnya. “Terutama Asian Games yang sudah di depan mata,” kata Susi, yang meraih juara dunia pada 1993. Bukan kali ini saja Indonesia pulang tanpa gelar juara di Kejuaraan Dunia. Sebelumnya, di Kejuaraan Dunia 2014, 2010, 2009, dan 2006, tak ada pemain Indonesia yang membawa pulang gelar juara. Namun, kabar baiknya, Susi mengapresiasi kemajuan di sektor ganda putri yang tiga pasangannya mampu mencapai perempat final di kejuaraan dunia kali ini. Selain Greysia/Apriyani, dua pasangan lainnya adalah Rizki Amelia Pradipta/ Della Destiara Haris dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani.

“Saya melihat kemajuan di sektor ganda putri dari segi teknik permainan. Hanya, sayang masih kurang di tenaga, fisik, ketahanan, dan kesabaran dalam melawan pasangan Jepang. Semoga di Asian Games bisa memberikan hasil yang lebih baik lagi,” kata Susi. Tiga wakil ganda putri Indonesia harus takluk di tangan wakil Jepang. Rizki/ Della dikalahkan oleh Koharu Yonemoto/Shiho Tanaka, 21-17, 12-21, 15-21. Adapun Anggia/Ketut ditundukkan oleh unggulan kedua, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, 17-21, 15-21. Adapun kekalahan Kevin/Marcus, menurut Susi, harus menjadi perhatian serius, karena pola permainan cepat pasangan juara All England dua kali tersebut harus dievaluasi. Kevin/ Marcus dinilai perlu memperbaiki diri, tidak boleh lengah dan cepat puas. “Kevin/Marcus harus ber fokus mengatur irama permainan sejak awal dan berusaha agar pola mereka tidak mudah terbaca lawan,” ujar Susi. Sementara itu, Greysia meminta maaf atas hasil yang mereka dapat bersama Apriyani. Mereka sudah berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik.

“Kami minta maaf karena kami main tidak seperti ekspektasi masyarakat Indonesia, pengurus PBSI, pelatih, bahkan ekspektasi diri kami sendiri,” kata Greysia. Dalam final kejuaraan dunia kali ini, nomor ganda putri dikuasai pemain Jepang dan ganda campuran mempertemukan wakil dari tuan rumah. Sementara itu, ganda putra dan tunggal putra mempertemukan pemain Jepang dan Cina, sedangkan tunggal putri mempertandingkan wakil India dengan wakil Spanyol.