3 Aksi Utama

Dalam menjalankan aksinya, Koalisi 18+ yang terdiri atas para profesional, merapatkan barisan dengan pihak-pihak yang konsen di bidang hukum, kesehatan, keluarga, hingga keuangan, seperti bergerak berdampingan dengan GKIA, Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), juga mengikuti perkembangan gerakan girlsnotbride di berbagai negara. “Malah, kami pun mendukung upaya YKP dengan membuat dokumen Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan) dan menggalang petisi. Masyarakat harus tahu, utamanya anak perempuan, bahwa mereka tidak perlu takut menyuarakan haknya untuk menolak dinikahkan, karena banyak yang akan memperjuangkan hak mereka,” ujar ibu dari Aisha Kirana Revalina (13), Ahmad Valiant Prawiratama (9), dan Aisha Kartika Sabrinaya (6) ini dengan bersemangat.

Bersama YKP, Koalisi 18+ sepakat memasukkan permohonan judicial review untuk memperkuat upaya di MK dan menambahkan pasal 7 ayat 2, menghapus kata “pejabat setempat” agar nantinya pemberian dispensasi hanya bisa melalui pengadilan, sehingga ada peraturan dan SOP oleh MA yang dapat ditetapkan dan harus dipatuhi para hakim. Jadi, aksi jangka pendek Koalisi 18+ adalah sesegera mungkin mendesak MK untuk mengabulkan permohonan tersebut. Sedangkan aksi jangka menengahnya, mengawal putusan MK. B

ila dikabulkan, maka pemerintah harus melakukan penyesuaian: membuat diseminasi, sosialisasi dan pengaturan pejabat-pejabat yang terkait langsung pada perkawinan. Ade juga mengampanyekan hasil positif bagi anak-anak perempuan bila melakukan penundaan pernikahan. Juga edukasi kepada orangtua untuk lebih fokus pada pemberian pendidikan bagi anak-anaknya, agar tidak lagi menganggap anak-anak perempuan sebagai beban dan harus segera dikawinkan. Adapun aksi jangka panjang Koalisi 18+ adalah mengawal pemerintah untuk terus berkoordinasi dan memastikan pemenuhan hak anak perempuan, seperti: kepastian pelaksanaan wajib belajar 12 tahun.

“Alhamdulillah, apa yang sedang dilakukan dan akan dilakukan oleh Koalisi 18+, sekarang sudah mendapat dukungan dari banyak pihak, baik lembaga, komunitas, maupun individu dari beragam profesi dan keilmuan.” Sebut saja, artis Christian Sugiono dan tim MBDC yang secara sukarela membantu membuatkan Yideografi s‑ 6tenny $gustaY dan Iwan Hikmawan yang juga membuatkan Yideografi s berupa sketsagram‑ lalu *rup Band D’Masiv yang aktif mengampanyekan petisi dan mengantarkan printout 13 ribu petisi kepada MK. Belum lagi para tokoh pemerhati HAM, kesehatan, dan psikologi yang bersedia menjadi amici/amicus dan menyerahkan dokumen Amicus Curiae ke MK, seperti: Ifdhal Kasim, A.H Semendawai, Magadalena Sitorus, Alissa Wahid, Anna Surti Ariani, Dirga Sakti Rambe.

Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing khususnya bahasa Perancis, berikan ia pelatihan akademik di bimbel bahasa Perancis di Jakarta.